Pentingnya Imunisasi

IMUNISASI saat ini sudah menjadi hal yang wajib untuk diberikan kepada bayi Anda, apalagi pemerintah juga sangat mendukung dengan mencanangkan program pemberian imunisasi dasar lengkap secara gratis. Oleh karena itu agar kita semakin paham dan mengerti pentingnya imunisasi, silahkan simak artikel berikut ini ...

Mengapa anak perlu imunisasi?

Karena usia anak-anak merupakan usia paling rentan terhadap berbagai virus dan penyakit. Maka dari itu, sejak dini anak perlu mendapatkan kekebalan tubuh melalui pemberian vaksin atau imunisasi untuk menghindari si kecil dari penyakit yang mungkin dapat mengakibatkan cacat bahkan kematian.

Bagaimana proses kekebalan itu sendiri terjadi?

Pada dasarnya kekebalan pada seseorang terbentuk dalam dua cara, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Pada kekebalan pasif, tubuh tidak membentuk sendiri kekebalan tubuhnya. Sedangkan pada kekebalan aktif, tubuh ikut berperan dalam membentuk kekebalan. Keduanya itu sendiri dapat berlangsung secara alami melalui dua cara, yaitu bawaan ataupun didapat dari luar.

Lalu, kekebalan seperti apa yang dimiliki bayi di bulan-bulan pertamanya?

Biasanya bayi usia 0 - 4 bulan, memiliki kekebalan pasif bawaan yang didapat pada zat antibodi yang diperoleh dari ibunya melalui plasenta. Karenanya, sampai usia 5 bulan, tubuh si kecil sanggup menahan serangan berbagai penyakit tertentu, seperti campak, difteri dan beberapa penyakit lainnya. Selain kekebalan pasif bawaan, si kecil juga bisa memperoleh kekebalan yang didapat melalui pemberian serum ke dalam tubuhnya, yang biasanya terjadi dalam waktu relatif singkat, yaitu sekitar 2 sampai 3 minggu. Serum ini biasanya diberikan untuk mencegah penyakit campak, tetanus dan lain-lain.

Lalu, bagaimana halnya dengan kekebalan aktif?

Kekebalan aktif juga bisa terjadi secara alami atau buatan. Keuntungannya, kekebalan aktif ini dapat berlangsung lama, meskipun baru dapat terbentuk 3 sampai 4 bulan setelah pemberian zat, karena tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk zat anti dalam kadar tertentu untuk dapat menolak penyakit.

Imunisasi apa yang diperlukan si kecil usia 0 - 4 bulan?

Pada usia ini, ada beberapa imunisasi yang perlu diberikan secara bertahap, yaitu BCG, DPT, Polio dan Hepatitis B.

(Repost from bayisehat.com)

Perkembangan Bayi 6 Bulan

Memang sangat mudah untuk menyadari berbagai perkembangan fisik yang “besar”, seperti ketika bayi Anda pertama kali bisa duduk, berguling dan mengangkat tangannya tanda minta digendong. Namun sebenarnya banyak juga lho perkembangan fisik “kecil” yang terjadi saat bayi berusia 6 bulan…


Diantaranya, saat ini bayi sedang belajar menggunakan jari-jemarinya, baik untuk masing-masing jarinya, maupun dalam bentuk kerjasama antara satu jari dengan jari lainnya. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan si kecil dengan jari-jarinya:

- Memukul

- Menggenggam dan menggoyang-goyangkan berbagai benda

- Mengambil dan membawa mainannya ke mulutnya

- Mengambil benda-benda berukuran kecil menggunakan ibu jari dan telunjuknya/jari tengahnya

- Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya

Penglihatan bayi Anda pada tahap ini sudah sangat baik dan dia sudah bisa melihat sebutir kacang di atas lantai yang terletak di seberang ruangan. Dengan koordinasi jari-jarinya yang membaik, Anda harus ekstra hati-hati, jangan sampai benda yang berceceran di lantai membuat si kecil tersedak…

Ingat, setiap bayi memiliki perkembangan yang unik. Sebagian bayi ada yang menunjukkan perkembangan motorik halus yang drastis, sebagian lebih terlihat menonjol dengan motorik kasarnya, ada bayi yang gesit dan sudah bisa merayap di atas perutnya pada tahap ini, sementara sebagian lagi lebih suka duduk diam dan mengamati apa yang terjadi di sekitarnya… setiap bayi adalah unik!

Alergi Terhadap Makanan

Sebagian Anda mungkin ada yang bayinya sudah atau baru mulai menerima MPASI (Makanan Pendamping ASI) pada tahap ini. Jika ya, maka perhatikan jika ada reaksi alergi dari si kecil terhadap makanan yang Anda berikan, terutama jika Anda atau keluarga Anda memiliki kelainan ini.

Hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah tanda-tanda alergi terhadap makanan yang timbul pada bayi Anda, seperti:

- Sesak napas

- Hidung tersumbat

- Mata berair

- Bercak pada kulit

- Diare

Jika ini terjadi, maka sebaiknya Anda segera memeriksakannya ke dokter anak Anda.

Sebagai langkah aman, Anda bisa memberikan makanan yang memiliki resiko sangat kecil dalam menimbulkan alergi, seperti kentang manis dan sereal beras.

Hindari makanan yang sering menimbukan alergi seperti:

- Produk susu olahan

- Coklat

- Putih telur

- Kacang

- Kedelai

Satu hal lagi - jika memang bayi Anda terbukti secara medis alergi terhadap bahan makanan tertentu, pastikan Anda membaca label pada setiap makanan kemasan yang Anda beli untuknya!

5 Ways to Get Baby to Sleep at Night

Alter your room - and the light.

Many parents have heard about utilizing blackout shades in the nursery, but try putting them in your own room as well. You'll sleep better at night, later in the morning time, and doze more easily during the day while your infant is napping. Do a quick spa treatment.

Gentle touch.

Newborn infants who have a bedtime massage doze off faster and sleep more thoroughly than those who don't. Before bedtime, give your baby a 15-minute rub down using slow strokes, gentle pressure, and a baby-safe oil.

Breathe slowly.

One way to get into a calm mood during the night is to slow down your breathing. It sends your baby a signal to be calm. To pace yourself, use headphones to listen to music that's slower than your heartbeat (anything with fewer than 70 beats per minute, like a soft ballad), then breathe to the rhythm.

Utilize a bassinet.

A bassinet can be placed into your bedroom and may improve the quality of your infant's sleep. Infants are inclined to sleep better in bassinets partly because they feel safer and more enclosed there.

In the morning, bring in the light.

Once it's time to get up, move into bright light ASAP. Light exposure to tells your biological clock that you should be awake. This is true for both you and your baby. Head out for a stroll with your child or sit with her by a sunny window. It will energize both of you, and help you remember the one additional thing that's predictable about motherhood: regardless of how difficult the night shift is, the sun will arise tomorrow.

Tingkatkan IQ anak dengan berenang

HASIL penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistis IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun. Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional dan sosialnya pun lebih baik.

Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa, karena bayi tak pernah memiliki faktor X semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya? Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang.

Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung ke dalam air tanpa takut tenggelam, karena pada usia tersebut, ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang. "Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan," jelas Dr. Karel Staa dari RS Pondok Indah, yang juga mantan perenang pemegang rekor 200 meter gaya dada pada 1960-1962.

Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usia tersebut, bayi tak bisa berenang lagi, lo. Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisir atau acak-acakan. Soalnya, dengan ada gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang.

Apalagi sejak di perut ibu, bayi sebenarnya juga sudah berenang dalam air ketuban selama 9 bulan. Setelah lahir, kemampuannya berenang tinggal ditingkatkan saja. Bahkan, saking populernya berenang ini, di luar negeri sampai ada proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, lo. "Secara medis, hal ini tak akan menimbulkan masalah karena merupakan proses alami." Jadi, tak ada alasan lagi untuk ragu-ragu mengajak si kecil berenang, ya, Bu-Pak.

HARUS AMAN

Yang penting diperhatikan, ketika berenang bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orang tua harus mendampinginya. Ini syarat mutlak, lo. "Jika orang tua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respon dari orang tua," tutur Karel.

Disamping, dengan orang tua mendampingi juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antar manusia. "Ini merupakan salah satu keunggulan berenang." Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orang tua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus menerus dengan anak? Kan, enggak. "Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy-nya lebih. Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak." Itulah mengapa, kedua orang tua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air.

Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan. "Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai." Bukankah saat berenang, semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja. Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja.

PERHATIKAN KEBERSIHAN AIR

Nah, kini Ibu-Bapak semakin mantap, kan, mengajak si kecil berenang? Tapi berenangnya di rumah saja, ya, kalau usia si kecil masih di bawah 6 bulan, agar bisa mengontrol kebersihan dan suhu airnya. Jangan lupa, di usia ini enzim pencernaan bayi belum matang. Jadi, kalau ia secara tak sengaja menelan air yang tak bersih kala berenang, bisa mengakibatkan mencret, muntah, dan sebagainya.

Bukan berarti di rumah harus ada kolam renang, lo. Toh, banyak benda yang bisa dijadikan sebagai pengganti kolam renang seperti bak mandi, ember besar, bathtub, dan lainnya. Nah, biasakan bayi bermain di situ. "Sebenarnya, ketika bayi tengah mandi atau bermain air merupakan salah satu cara mengenali atau menghayati air pada anak," tutur Karel.

Setelah bayi berusia 6 bulan ke atas barulah bawa ia ke kolam renang terbuka atau umum. "Tapi harus pilih, ya. Mungkin di Indonesia masih sulit karena kita, kan, enggak punya kolam berenang khusus bayi. Bahkan kebanyakan kolam renang di Jakarta, air yang dipakai itu-itu saja, muter saja di situ. Diputarnya pakai mesin lalu ditambahkan kaporit dan daun-daun atau kotorannya diangkat; sebulan sekali baru diganti." Hal ini dikarenakan sulitnya sumber air di Jakarta. Lain dengan di kota pegunungan seperti Bogor dan Cibodas, "mereka memiliki kolam renang yang airnya mengalir".

Jadi, bila mau membawa bayi berenang di kolam renang umum, pilih waktu yang tepat, yaitu ketika kolam renang masih dalam keadaan bersih; biasanya di waktu pagi. "Suhunya juga harus disesuaikan, sebaiknya jangan lebih dari 31 atau 32 derajat celcius." Khusus untuk bayi usia satu bulan pertama, suhunya 34-35 derajat celcius.

Kebersihan lain yang harus diperhatikan ialah kaporitnya, "jangan terlalu jenuh, karena kaporit bisa mengakibatkan iritasi kulit, mata, dan lainnya." Ukuran kaporit yang ditetapkan untuk anak adalah 6-8 ppm. Hati-hati, lo, Bu-Pak, jika bayi sudah merasa trauma karena matanya perih, misal, selanjutnya akan jadi kendala.

UNTUK REKREASI

Yang perlu diingat, jangan sampai orang tua mengajak bayi berenang untuk mengejar prestasi karena tujuan utamanya adalah rekreasi. Beberapa asosiasi kedokteran anak di luar negeri malah mengatakan, berenang pada anak usia di bawah 4 tahun jangan dijadikan tujuan untuk mengejar prestasi. Di atas usia itu barulah orang tua bisa mengajarkan gaya-gaya berenang yang ditargetkan untuk prestasi.

Dalam bahasa lain, bayi berenang hanya untuk fun. "Mulai usia setahun bolehlah diarahkan pada prestasi, tapi tidak dengan cara ditekan," ujar Karel. Misal, setiap hari harus berenang 50 meter bolak-balik. Soalnya, di usia tersebut ia baru bisa mengikuti gerakan-gerakan renang yang dilakukan orang tuanya. Sama halnya dengan bayi usia setahun yang suka marah-marah karena melihat orang tuanya yang suka marah-marah, begitu pula berenang. "Kalau orang tua suka berenang dengan gaya yang cukup baik maka ia pun akan mengikuti."

Jadi, ajak si kecil berenang untuk kesehatannya lebih dulu, ya, Bu-Pak. Soal gaya renang akan mengikuti secara otomatis bila ia sudah menyukainya. Jangan lupa, ketika mendampinginya, Ibu-Bapak juga harus fun, lo, bukan lantaran terpaksa.

(repost from bayisehat.com)

Sakit (Flu Tulang) dan asi untuk Bima

Sudah 3 hari ini saya berjuang melawan demam dan ngilu yang menyerang persendian tubuh saya, belum ditambah vertigo yang akhir-akhir juga semakin sering muncul, sementara bima perlu asi, apakah saya harus stop dulu memberikan asi atau lanjut seperti biasa, saya benar benar dilema...Karena waktu itu saya pernah terpaksa membuang kolostrum perah saya karena saya sedang demam dan meriang setelah kolostrum keluar, disaat itu saya diberitahu kalau tidak baik memberikan asi pada saat kondisi ibu sedang sakit apalagi bima pada saat itu juga sedang terkena demam dan diinfus.
Tidak tega melihat kondisi saya,suami saya membawa saya ke puskesmas dekat rumah kami,dipuskesmas dokter menjelaskan bahwa saya terkena flu tulang atau chikunguya tapi belum sampai stadium yang parah, saya masih bisa meberikan asi pada bima bahkan menurutnya sangat baik memberikan asi pada saat bunda sedang sakit karena pada saat sakit tersebut banyak antibodi yang terbentuk dan baik untuk perkembangan bayi tapi karena saya juga ada radang tenggorokan maka saya harus menggunakan masker untuk meminimalkan virus yang keluar dari mulut saya.

Tidak tega melihat kondisi saya,suami saya membawa saya ke puskesmas dekat rumah kami,dipuskesmas dokter menjelaskan bahwa saya terkena flu tulang atau chikunguya tapi belum sampai stadium yang parah, saya masih bisa meberikan asi pada bima bahkan menurutnya sangat baik memberikan asi pada saat bunda sedang sakit karena pada saat sakit tersebut banyak antibodi yang terbentuk dan baik untuk perkembangan bayi tapi karena saya juga ada radang tenggorokan maka saya harus menggunakan masker untuk meminimalkan virus yang keluar dari mulut saya...Saya masih agak sangsi karena pengalaman saya yang sebelumnya,akhirnya saya membuka literatur dan browsing internet dapatlah situs say yes to asi....Dijelaskan dalam situs ini bahwa menurut beberapa literatur dan penelitian yang dilakukan di dunia medis, ternyata justru menyebutkan bahwa ASI-lah yang justru akan membuat daya tahan tubuh si kecil terhadap berbagai penyakit akan meningkat. Karena itu, meski sedang sakit sekalipun, pemberian ASI eksklusif masih terus harus diberikan.

Menurut dokter Savitri Ramalah dalam bukunya Infant Nutrition, sangat sedikit penyakit yang terjadi pada seorang ibu yang mengharuskan ia menghentikan pemberian ASI pada buah hatinya. Disebutnya, infeksi virus seperti flu, batuk, dan lain-lain adalah penyakit yang membatasi diri sendiri. Ini berarti bahwa penyakit itu akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Karena itu, berhenti memberikan ASI pada masa ini justru akan membahayakan bagi daya tahan tubuh anak. Dokter dari India ini juga mengingatkan, bahwa berhenti menyusui tidak akan menjadi semacam pencegah anak dari tertularnya penyakit ibu. Sebab, ada pula kemungkinan seorang ibu telah menulari anaknya sebelum ia telah menyadarinya. Maka, zat-zat antibodi dalam ASI-lah yang justru akan memperkuat daya tahan tubuh buah hati ketika sang ibu—dan bahkan lingkungan sekitarnya—sedang banyak terkena penyakit yang diakibatkan oleh virus tertentu.

Dalam bukunya, dokter Savitri bahkan menyebutkan jika infeksi berat seperti TBC atau lepra sekalipun, bukan jadi alasan untuk menghentikan pemberian ASI. Biasanya, jika memang menderita TBC, dokter akan menyarankan pemberian ASI peras sampai TBC tidak aktif lagi.

Intinya, dengan berbagai cara, ASI masih bisa diberikan pada saat sang bunda sedang sakit. Bahkan, ketika sakit berat sekalipun, hal itu sangat kecil kemungkinan untuk menginfeksi ke dalam air susu ibu. Meski begitu, ada juga beberapa penyakit yang mungkin tertularkan melalui ASI. Salah satunya yaitu virus hepatitis C dan HIV. Khusus untuk penyakit ini, memang biasanya dokter akan menganjurkan menyetop pemberian ASI karena dapat menularkannya melalui air susu kepada anak. Sedangkan dalam kasus terkena virus hepatitis A dan B, ASI masih aman diberikan pada anak. Satu catatan yang diberikan dokter Savitri, anak tetap dianjurkan untuk bisa mengikuti rangkaian imunisai hepatitis lengkap sehingga bisa mencegah tertular virus ini.

Berikut beberapa hal yang bisa bunda lakukan jika memang benar-benar ingin mencegah atau meminimalisasi tertularnya penyakit pada sang buah hati:
• Jika memang terkena virus sangat menular seperti influenza, saat menyusui, bunda bisa mengenakan masker atau kain penutup hidung dan mulut. Meski tidak seratus persen aman, tapi setidaknya, hal ini mampu meminimalisir dari kemungkinan tertularnya si kecil pada penyakit bunda.
• Hindari kontak langsung yang terlalu dekat pada buah hati ketika sedang sakit. Misalnya, kurangi menciumi sang buah hati saat sedang sakit berat.
• Teruslah berkonsultasi pada dokter untuk mengetahui efek sebenarnya dari penyakit ataupun obat yang diminum nantinya pada sang buah hati. Dengan begitu, bunda akan tahu persis, apakah harus meneruskan atau menghentikan sementara pemberian ASI-nya.

Semua anjuran tersebut, tetap harus dibarengi dengan tetap memberikan ASI pada si kecil. Sebab, ASI-lah yang akan memberikan sejuta manfaat perlindungan pada tubuhnya dari serangan berbagai macam penyakit. Jadi bunda tidak ada masalah memberikan asi pada sikecil, akhirnya saya pun dapat memberikan asi pada Bima tanpa takut saya akan menularkan kepadanya, toh saya sudah mengikuti saran saran seperti diatas dan yang terpenting bunda,hati yang senang dan tulus dalam memberikan asi akan sangat bermanfaat untuk buah hati kita.So, “Say yes to ASI!!!” XOXO


Sumber : SayYesToAsi dan pengalaman pribadi

Makanan padat pertama untuk bayi

Sebelum kita bicara jenis makanannya, kita perlu tahu juga bahwa waktu pemberian yang tepat yang dianjurkan para dokter adalah usia bayi 6 bulan tapi pada saat 5 bulan sudah boleh diperkenalkan makanan padat sedikit sebagai tambahan asi atau susu formula. Kadang ada ibu yang sudah memberikan bayinya bubur atau pisang yang dihancurkan pada usia 3-4 bulan.
Pada beberapa bayi bisa menimbulkan diare atau gangguan pencernaan lainnya. Tapi beberapa bayi tampak baik-baik saja, ini mungkin saja terjadi tetapi perlu kita ketahui bahwa organ pencernaan bayi juga sedang bertumbuh dan belum cukup matang untuk menerima makanan padat pada usia tersebut. Hal ini akan membuat organ pencernaan bayi bekerja lebih keras. Banyak ibu yang khawatir bahwa asi atau susu saja tidak cukup, tetapi percayalah bahwa sampai usia 6 bulan bayi cukup diberi asi saja, karena para dokter juga sudah didukung dengan hasil penelitian. Bayi anda tidak akan kelaparan karena tidak diberi makanan padat, tentu saja dengan catatan berikan asi pada bayi sepuasnya.
Menurut beberapa sumber yang saya baca makanan yang baik untuk diperkenalkan pertama kali adalah bubur nasi putih, usahakan disaring supaya tidak terlalu padat lalu campurkan dengan asi atau susu formula. Kenapa dipilih bahan beras/nasi? Karena bubur nasi lebih mudah dicerna dan sangat jarang menimbulkan reaksi alergi. Lalu penambahan susu, itu karena secara teori bayi akan lebih mudah menerima sesuatu yang sudah ia kenal.   Sampai usia 6 – 7 bulan makanan harus diusahakan tetap lembut, kemudian menjadi lebih kental/padat setelah bayi makin bertambah usianya. Jangan memasukkan gula dan garam ke dalam makanan bayi karena pada umur ini bayi tidak terlalu peka terhadap rasa. Usahakan untuk tidak memberi makanan yang manis dulu, karena takutnya nanti dia terbiasa dengan sesuatu yang manis lalu tidak mau menerima yang lain.   Menurut teori pemberian sayuran adalah yang terbaik karena selain bergizi, berserat dan tidak manis. Tetapi rasanya yang khas dan kuat membuat bayi tidak terlalu suka. Sayuran kuning seperti wortel dan ubi bisa sebagai campuran, selain lebih bergizi, biasanya lebih mudah diterima daripada sayuran hijau.   Beberapa tips untuk pemberian makanan pertama:

1. Berikanlah pada Waktu yang Tepat . Bila anda memberi asi, maka berikan makan waktu cadangan asi anda agak sedikit, biasanya sore hari. Dan jangan berikan makan setelah minum asi atau saat bay masih kelihatan kenyang.
2. Suasana yang Tepat . Misalnya anda sudah siapkan semuanya pada jam 4 sore lalu bayi anda rewel entah karena capek atau ngantuk sebaiknya ditunda dulu. Cari suasana yang lebih baik waktu bayi sedang segar dan ceria.
3. Bersiaplah untuk waktu makan yang lama . Jangan memberi makan waktu anda sedang sibuk atau terburu-buru, karena proses pengenalan ini bisa memakan waktu yang lumayan.
4. Persiapkan tempatnya. Siapkan kursi yang sudah dia kenal atau kereta bayi juga boleh. Pakaikan sabuk pengaman demi keamanan bayi dan juga membuat pikiran anda tenang. Pakaikan pelindung baju untuk bayi supaya makanan tidak mengotori bajunya. Pilihlah sendok yang berlekuk dan pinggirnya lembut sehingga aman buat gusi bayi.
5. Mulailah dengan perlahan. Reaksi setiap bayi mungkin berbeda. Pertama anda mungkin hanya perlu menyisipkan makanan dibibirnya, jika dia suka pasti dia akan membuka mulutnya dan meminta lebih banyak.
6. Tahu kapan harus berhenti. Jika bayi anda sudah kehilangan minat sebaiknya jangan dilanjutkan lagi. Tandanya bisa berupa rewel, kepalanya dipalingkan, mulutnya ditutup atau makanan dikeluarkan lagi.
7. Siapkan Kamera. Anda tentu tidak ingin melewatkan bagaimana ekspresinya waktu menerima suapan pertama.

Terakhir, jangan berikan madu buat si kecil. Bukan saja tidak mengandung kalori tetapi juga mengandung resiko kesehatan. Madu dapat mengandung spora dari Klostridium botulinum , yang dalam bentuk ini tidak berbahaya bagi orang dewasa tetapi dapat menyebabkan botulisme ( disertai sembelit, kelemahan dalam menghisap susu, kurang nafsu makan dan kelemahan umum) pada bayi. Penyakit yang serius, meskipun jarang menjadi fatal, ini dapat menjurus ke pneumonia dan dehidrasi. Dokter menyarankan untuk menunggu sampai usia 1 tahun ke atas. Tetapi untuk madu yang terkandung dalam susu formula dikatakan cukup aman.
(re-post from ayahbunda.net)